Tampilkan postingan dengan label kumpulan puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan puisiku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 April 2018

Inilah Aku


Inilah Aku

Terkapar Ditengah Badai panjang
Inilah aku yang tecambuk keadaan
Mencari nama diatas atap yang mulai roboh
Inilah aku yang terasingkan oleh pandangan
       Terinjak-injak didalam peti berkarat
       Tak tahu kapan ini semua akan menepi
       Diriku yang tak terwariskan kejayaan dan mahkota
       Harus dipaksa mengukir ditengah laut yang sepi
Termulai dari semua yang tertinggal
Menjadi dambaan bagi kaum-kaum yang hina
Apakah salah jika semua ini hanya tentang hidup
Yang akan berakhir begitu saja,tak terencanakan
       Memang beda diantara tumpukan logam kuning
       Yang dipuja-puja bagai syair Raja-Raja nusantara
       Yang memegang akan kendali perahu-perahu besar mewah
       Membayar duka kesengsaraan disetiap tundukan
Inilah aku yang hanya memegang satu tonggak kayu kehidupan
Tak tau adab,adat ataupun sejenisnya itu
Yang hanya berjalan diantara lorong-lorong kecil panjang
Yang setiap waktu ditemani dengan aroma kematian
       Tak bertempat bagaikan angin
       Bergejolak diantara derasnya kabut biru
       Tertancap kerikil-kerikil keheningan
       Yang menembus malam-malam pekatku
Kuhabiskan aliran air kesendirian
Yang menjulang tinggi dikhayangan
Dengan sejuta deraian-derain air mata ini
Kukatakan”kapan aku pulang?”
       Sempat terbisikan untuk menikam lengan dan dada kiriku
       Menghentikan langkah depakan kaki dan nafasku
       Melupakan semua,dan biarkan berlalu
       Menghilang dari setiap heningan masa lalu
Mungkinkah harus begitu,atau bagaimana?
Hingga akhirnya aku tersadar
Bahwa ini bukan seuntaian cobaan-cobaan semu semata
Tetapi ini karma aku dilahirkan
       Jangan tanyakan lagi tentang kehidupan ini
       Karena semua telah nyata dalam setiap pandangan
       Yang menjadi satu rangkaian makna tersirat
       Tentang pengertian yang tak dimengerti
Aku yang berharap beda dari semua ini
Menghukum diri dengan kehampaan
Memulai dengan keputus asaan

Dan aku yang berharap beda dari semua ini
Menghilang dari setiap pandangan
Membawa lonceng-lonceng kesunyian
      
Inilah aku yang sendiri dalam kesendirian diselimuti sunyi dalam kehampaan hidup ini


Created:dwi setyawan


Salam bahagia sobat semua,aku berharap setiap waktu yang sobat miliki bermanfaat dan berkwalitas,terima kasih telah mampir diblog”belajar dan berkarya bersama ini” dikesempatan ini saya berhasil membuat karya puisi yang ke6 tentang kesenduan,kesedihan pada seorang yang tak punya apa-apa,putus asa yang selalu terlintas dibenaknya,karena selama hidup selalu dianggap tidak ada bahkan hilang karena semua tentang harta.
Mungkin itu saja ya sobat,sampai bertemu dikarya dwi selanjutnya jangan lupa jaga kesehatan agar dalam hidup ini BERARTI,
semoga karya puisi “inilah aku”ini bisa menemani sobat-sobat yang lagi sendu,galau.dan bermanfaat untuk refrensi bagi sobat yang mungkin berkeinginan untuk  berkarya puisi,jangan menyerah, tetap semangat. 

GOOD LUCK

Jumat, 30 Maret 2018

Puisi Teruntuk Mereka Yang Kusayang


Teruntuk Mereka Yang Kusayang

Kulihat perlahan garis setiap kulitNya
Tertulis indah langkah-langkah sejarahNya
Setiap kerlingan tergambarkan senyuman
Tanamkan sentuhan kasih-kasih abadiNya
       Melangkahkan kaki  menghabiskan malam
       Dengan tombak-tombak tua dilenganNya
       Mengayuh kuda-kuda kecil dijalanNya
       Memberi petuah-petuah kedamaian
Terlelapnya sang waktupun tak mampu surutkan sinarNya
Apalagi angin-angin malam penggoyah hidup ini
Menghukum diri untuk masa depan
Tak hiraukan luka-luka hinaan
       Lapuknya karang-karang lautan
       Tak pantaskah bila ku bertanya tentang kebencian
       Tentang benak-benak yang tersesat
       Yang sekejap lupa dalam perjalanan
       Mementingkan kemewahan dalam setiap pandangan
Ini bukan tentang mereka-meraka yang ingin sedikit memberi
Yang mencoba menyentuh ataupun menggenggam
Tapi tentang mereka yang pandai membayar
Merupiahkan kasih sayang,membeli pengorbanan
       Teruntuk Mereka yang kusayang
       Dariku yang yang tak berlengan ini
       Setiap dentingan langkah penunjuk arah ini
       Ingin sekali bersanding,bercerita
       Menyentuh,memeluk,mengusap dan merawat
       Melihat langkah hebatmu dan meneladani perjuanganmu
Dan teruntuk mereka yang kusayang
Dariku yang selalu meneteskan air mata ini
Baik saat ini ataupun lusa entah purnama datang
Yang tak tak tahu kapan datangnya ombak kecil lautan
Yang menyeret akan ketiadaan
Akan Sembah sujudku yang tertunda ini
       Mengembarapun tak akan aku temui lagi
       Tumpukan-tumpukan ilalang kecil yang menghijau
       Sinar-sinar yang bercahaya abadi
       Telah padam bersama sifat hitamku ini
Hari ini adalah kunci sayang
Hari lusa adalah pengharapan terang
Terabaikan akan setiap masa lalu
Yang telah menjadi rentetan kenangan
Teruntuk mereka yang kusayang walaupun telah habis nafas panjang ku
Budimu akan selalu kukenang disetiap cinta dalam kasih dan sayang abadi ini


Created by dwi setyawan
    


Salam bahagia untuk sobat-sobat tercinta,terima kasih telah meluangkan waktu dan mampir diblog belajar dan berkarya bersama ini,nah diartikel kali ini saya berhasil membuat karya puisi yang ke5 dengan judul”Teruntuk kamu yang kusayang”dengan singkat bahwa puisi ini bercerita tentang seorang anak yang hanya mementingkan kemewahan yang lupa akan pengorbanan dan kasih sayang yang mencintainya(dalam versi saya ini orang tua).
Semoga dengan puisi ini kita menjadi tergugah untuk menghargai setiap orang yang memberikan budi baiknya dan kasih sayangnya kepada kita,
Karya ini tidak sempurna masih banyak kesalahan makna ataupun lainnya,maka dengan kerendahan hati,mohon saran dan kritik,demi kesempurnaan karya saya dan dapat menciptakan karya yang berkualitas,terima kasih

GOOD LUCK

Rabu, 28 Maret 2018

puisi tangan-tangan hitam


Tangan-tangan hitam

Mencoba  menepi dalam kehampaan
Menghasut hati akan jiwa yang sendu
Tak q mengerti mengapa sang angin hidup berkeliaran diluar sana
Dan tak q mengerti mengapa  angin mengepakan sayap hitamnya
Semua telah jadi satu dalam keheningan malam untuk menjadi  satu pertanyaan
Mengapa semua ini terjadi begitu cepat dan sesat
            Tertunduk sejenak kepala ini
            Dengan beraninya aku langkahkan kaki ini sejangkah demi sejangkah
            Pada akhirnya aku terhenti dalam sebuah gubuk reyot dengan atap daun tebu
            Didindingi anyaman bambu yang mulai rapuh
            Tak satupun burung berkicau,tak satupun jangkrik berderik
            Anginpun mulai berubah arah
            Semua kacau seolah-olah hidup ini diatas ranting-ranting  kecil
Penglihatan yang mulai rabun ini
Kupaksakan melihat beberapa orang  yang dijauh sana
Berjalan seperti berlari,mendekat seperti menjauh
Seolah-olah  menjerit dan meminta tolong
Memanggil-manggil tapi tak bersuara
            Kepalaku terangkat,mataku terbelalak,telingaku bergerak
            Tempatku berpijak seolah bergerak-gerak cepat
            Segerombolan kuda hitam ditunggangi tangan-tangan hitam
            Datang dari sebelah selatan mata angin
            Mendekati dan merayup suara-suara  yang sunyi itu
            Tak ada satupun yang menghalangi menatapnya pun tak terberanikan
            Yang pada saat itu angin terhenti sebentar
 Melangkah mendekati karang tajam
 Mencari tahu apa yang telah terjadi,mengapa terjadi,bagaimana bisa terjadi
 Tak satupun terjawabkan atas semua pertanyaan itu,
Hanya auangan srigala malam itu sang pemberi tanda
Benarkah itu,benarkah itu dan benarkah itu
Mengira-ira pun terfikirkan dalam benak yang gelap ini
            Tangan-tangan hitam yang bergejolak dengan cerahnya awan
            Menghalau semua pandangan hati tentang sentuhan putih
            Memercikan api-api kelemahan
            Pada setiap pandangan-pandangan nan kosong
Kebahagiaan yang dimilikinya pun perlahan tercabut oleh si tangan hitam
Pedih,sedih,pilu menjadi satu dalam setiap jasadnnya
Mengubur diri dalam setiap pengharapan yang pekat
Terbujur kaku dalam kesengsaraan
          Tangan-tangan hitam yang  enggan menoleh
          Menapakan telapak besarnya dipermukaan tangisan
          Membawa cerutu-cerutu hitam tajam
          Sembari tersenyum senyuman hina
Menyeret-nyeret budak dalam kegelapan
Menambahkan sayatan bagi para pelawan
Menendang-nendang tanpa perasaan
Itulah mereka raja kegelapan
           Tak terfikirkan oleh pengarang rangkaian
           Sudahkah ini tertuliskan dikertas merahMu
           Atau karma-karma kecil merayap disetiap rongga-rongga hidup ini
           Ataukah terlenanya burung merpati yang diam-diam mencuri
           Hingga sang mentari terbit tak satupun melihatkan nafas dinginnya
Apakah ini akan musnah atau sebuah kelahiran?
Apakah ini akan berakhir atau hanya sekelumit permulaan?
Meski seribu panah terlepas,tanya ini akan selalu menaung
Terdepanku hanya sebuah kata-kata usang
Dan terbelakangku hanya tindakan-tindakan kecil tak berarti
                                
                                           Pesan dari para mereka yang terkubur dalam kesengsaraan
                                           “Tetap berbaik dalam tindakan,itu akan menyejukanmu”
                      


Created by dwi setyawan

Salam sejahtera untuk kita semua,hallo sobat setia pembaca puisi dwi,kabar baikkah? Dwi harap semua dalam keadaan sehat dan bahagia,tak lekang oleh apapun rasa hormat dan terima kasihku kepada sobat setia yang telah meluangkan waktunya untuk mampir dan membaca karya-karya dwi
Dalam karya yang keempat ini,yang aku beri judul “Tangan tangan hitam”dimana menceritakan tentang penindasan kaum-kaum lemah,ketidakadilan,dan kesengsaraan yang dilakukan oleh penguasa kegelapan yang tanpa perasaan menindas dan menyiksa.
Mungkin ini saja  sobat setia penjelasan dari puisi diatas,jangan lupa untuk komentar saran dan kritik agar karya-karya dwi lebih sempurna dan bermanfaat,terima kasih
                                           “Tetap berbaik dalam tindakan,itu akan menyejukanmu”
GOOD LUCK

KISAH INI